HOME PROFILE TYPE ARTIKEL CASH DAN KREDIT CONTACT US
    Cari Produk:   
DEALER PAJERO DAKAR  
PAJERO GLX 4x4  
PAJERO EXCEED 
DEALER OUTLANDER PX  
Dealer OUTLANDER GLS  
SHOWROOM OUTLANDER GLX 
MIRAGE GLS SPORT 
MIRAGE EXCEED 
MIRAGE GLX MANUAL 
DEALER L300  
STRADA TRITON  
PICK UP T120 SS  
COLT DIESEL 
FUSO 
OUTLANDER PX  
DEALER EXPANDER 
EXPANDER 
KREDIT DP MURAH L300 
KREDIT L300 
PAKET KREDIT L300  
Harga Pajero 
PAJERO DAKAR ULTIMATE 
EXPANDER 
Flag Counter



Tubuh balita,tapi usia hampir 15 thn

Jakarta, Saat melihat sosok anak perempuan ini, pasti Anda akan berpikir bahwa ia adalah balita yang baru berusia 2 tahun. Tapi ternyata anak perempuan yang bernama Pei Shan ini akan berusia 15 tahun pada 5 Agustus mendatang.

Pei Shan merupakan putri pasangan Teo Qi Kuang (54) dan Florence Chew (44). Sejak Florence mengandung, seperti layaknya pasangan lain yang ingin segera mendapat momongan, melakukan berbagai persiapan untuk menyambut buah hatinya. Demikian dikutip dari The New Paper.

"Saya membaca banyak buku untuk mencari informasi dan bahkan membeli sebuah jurnal. Semua disiapkan untuk memetakan bagaimana tahap perkembangan bayi kami. Saya bahkan berencana untuk mendaftarkannya ke acara bayi. Tapi perkembangannya berhenti di umur tiga bulan," tutur Florence.

Dilansir dari Asiaone, pada Jumat (2/8/2013), Pei Shan dirawat di rumah sakit pertama kali saat umurnya empat bulan. Kala itu ia menunjukkan tanda stridor, sebuah gejala mengi bernada tinggi yang mana terjadi pembuka antara pita suara menjadi sempit.

"Itu terjadi saat dokter memperhatikan bahwa ternyata tungkainya lebih pendek dari bayi normal seumurnya. Kami disarankan untuk memperhatikan kondisi pertumbuhan fisiknya, karena pertumbuhan fisik anak perempuan terkadang bisa lebih lambat," terang Florence mengingat kejadian pada saat Pei masih kecil.

Teo mengatakan, "Satu kondisi (kesehatan) akan muncul setelah yang lainnya. Setiap kali kami pikir kami akan bisa mengatasi salah satu rintangan, pukulan lainnya akan datang dan kami harus melewati situasi penderitaan serta emosi yang naik turun. Itu kelihatannya tidak akan berakhir."

Hingga saat ini, dokter belum bisa mendiagnosa kondisi medis Pei Shan secara tepat. Pei Shan akan berumur 15 tahun pada tanggal 5 Agustus ini. Tapi ia terjebak di dalam tubuh balita yang gemuk. Dan seperti sosok balita, Pei Shan juga menggunakan popok.

"Kebahagiaan kami sebagai orang tua berbalik menjadi putus asa. Terkadanga saya bertanya-tanya, kenapa kami? Apa yang telah saya lakukan di kehidupan sebelumnya hingga saya harus membayarnya sekarang? Pada awalnya, kami hanya fokus dalam mencoba untuk mengatasi situasi, tidak ada waktu untuk memikirkan yang lainnya," keluh Teo.

Saking putus asanya, terkadang saat pergi tidur, Teo berharap tidak akan bangun lagi pada esok paginya. "Tapi secepatnya saya mengingatkan diri saya bahwa hal itu sangat tidak bertanggung jawab. Anak dan istri saya akan sendirian mengurus diri," ucapnya.

Florence, ibu dari Pei Shan, akhirnya keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai bank agar bisa menjaga Pei Shan sepanjang hari pada saat umur Pei Shan sembilan bulan. Dan saat ini ia menjadi ibu yang sensitif pada setiap suara yang datang dari kamar anaknya.

"Saya bisa mendengar suara dari gelang kaki yang digunakannya bahkan saat saya sedang berada di dalam toilet atau dapur. Atau saat ia memanggil, 'mee' (kependekan dari mami), dan saya bisa mendengarnya memanggil saya. Dia bergerak pun saya bisa mendengarnya. Bahkan jika sedang berisik," tuturnya.

Ketika umur Pei Shan berusia sekita dua tahun, ia masuk sekolah khusus Margaret Hard School selama sekita satu tahun. Tapi jika ia berada di luar, itu artinya ia akan lebih rentan terkena infeksi dan itu akan membuat dia berada di ruangan dengan ketergantungan tinggi. Karena itu Pei Shan pun mengikuti home schooling.

"Pernah sekali, tingkat oksigennya turun hampir mendekati nol dan tubuhnya menjadi biru. Kami hampir kehilangan dia. Kapan saja dia terinfeksi dan harus dirawat, ia harus melewati putaran penderitaan. Dokter merasa sulit untuk mengambil darahnya untuk tes, karena mereka tidak bisa menemukan venanya," kata Teo.

Teo mengatakan bahwa meskipun sakit, Pei Shan tidak menangis. Sepertinya Pei Shan tahu jika menangis maka dirinya akan menyakiti hati kedua orangtuanya. Meski demikian terkadang orang tuanya memergoki ada tetesan air mata di sudut mata gadis kecil itu.

"Saya sudah mengatakan sebelumnya pada Pei Shan, 'jika satu hari nanti kamu berada di rumah sakit untuk memperjuangkan hidupmu dan kamu merasakan sakit yang tidak tertahankan, lepaskan saja, pasrahkan saja, mami akan mengizinkan kamu melakukannya'," papar Florence.

Ia menambahkan, "Saya katakan kepadanya bahwa ia akan pergi ke surga dan ia tidak perlu mengkhawatirkan saya dan ayahnya. Pei kemudian bertanya, 'Lalu apa yang akan dilakukan Mami dan Papa?'"

"Lalu saya menjawab bahwa ayahnya mungkin akan lanjut bekerja dan saya akan merawat anak lainnya yang menderita atau neneknya. Pei Shan kembali bertanya, 'Lalu apa yang akan aku lakukan di surga?' Saya katakan kepadanya bahwa ia akan menjadi malaikat. Malaikat kecil kami di surga," tutupnya.


(vit/vit)

 

 
BINA DIRGAHAYU@2012 | created by Moro Sakato | rss | KKM | KKM | KKM
... Copyright by Moro Sakato showroom mobil honda, showroom mobil honda bekasi, jual mobil honda